Funds $13 | Needed $160
Like the community? Enjoy reading manga?
Then click on the small donation banner! Thx!

9%

Author Topic: For anyone who want know Indonesia People  (Read 80 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline yudhapamungkas

  • J-Starter
  • *
  • Posts: 2
  • Renommée: 0
    • View Profile
For anyone who want know Indonesia People
« Reply #1 on: July 09, 2018, 04:03:16 AM »
Indonesia merupakan sebuah negara dengan ragam terbesar, baik alam hingga manusianya. Dalam keragamannya, manusia Indonesia memiliki ciri atau sifat yang melekat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara mereka.

Setidaknya hal tersebut yang hendak di sampaikan Mochtar Lubis dalam pidato kebudayaan yang diadakan di Taman Ismail Marzuki pada 6 April 1977 silam.

mochtar-lubis-2Mochtar Lubis sendiri merupakan seorang wartawan dan pengarang.

Ia sempat menjadi bagian dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan juga anggota International Press Institue.

Dirinya juga salah satu pendiri kantor berita Antara. Sejumlah novel karyanya juga pernah diterbitkan dan memperoleh penghargaan.

\Salah satu novelnya yang terkenal adalah Senja di Djakarta.

Dalam pidato kebudayaannya itu, setidaknya terdapat enam ciri manusia Indonesia yang Mochtar Lubis sampaikan.

Jakob Oetama, yang juga seorang wartawan senior serta salah pendiri surat kabar harian Kompas mengungkapkan bahwa pidato kebudayaan Manusia Indonesia ini mampu menjadi permulaan kerangka yang berguna untuk membangun kembali manusia Indonesia.

Enam sifat manusia Indonesia

Jika dibandingkan dengan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini, apakah keenam ciri Manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis masih berlaku? Berikut adalah keenam sifat manusia Indonesia tersebut.

1. Hipokrisi (Munafik / Suka berpura-pura)
mask-topeng-hypokrisis

ahmad-musadeq-cs-kanjeng-dimas-taat-pribadi-gatot-brajamusti
Ahmad Musadeq cs, Kanjeng Dimas Taat Pribadi dan Gatot Brajamusti.

Munafik. Kata hipokrisi didapat dari Yunani ὑπόκρισις (hypokrisis), yang artinya “cemburu”, “berpura-pura”, atau “pengecut”.

Dalam bahasa indonesia sendiri sering disebut sebagai “munafik”. Ciri yang satu ini cukup menonjol di tengah kehidupan masyarakat Indonesia.

Sistem feodal di masa lalu yang menekan rakyat Indonesia menjadi sumber dari hiprokisi yang dahsyat! Baik datang dari urusan keagamaan, sosial, hingga masalah korupsi.

Agama datang untuk memperkaya kehidupan jiwa manusia Indonesia, namun tak sepenuhnya mampu dirasakan karena dihantarkan dengan kekerasan, paksaan, kemunafikan, kebencian, kedengkian, hingga persekutuan dengan kekuasaan lain.

Hal ini jelas melenceng jauh dari ajarannya, jauh panggang daripada api. Begitu pula orang-orang yang menentang korupsi, namun turut juga melakukan korupsi.

Banyak dari manusia Indonesia yang mengatakan bahwa hukum yang diterapkan dalam negeri ini telah bersikap adil, namun pada kenyataannya pencuri kecil masuk penjara, namun koruptor bebas keluar masuk penjara.

Kondisi tersebut tak berubah ketika kita mengingat kasus pencurian bambu yang dilakukan oleh sepasang nenek dan kakek di Gorontalo pada beberapa waktu lalu, yang memaksa mereka disidangkan di Pengadilan Negeri Limboto. Hal yang sangat-sangat kontras dengan pelaku korupsi besar yang beberapa kali lolos dari sidang.

2. Tak Bertanggungjawab
tak-bertanggungjawab-atas-perbuatannya

Buang sampah sembarangan? Sudah tradisi.
Buang sampah sembarangan? Sudah tradisi.

Cuek, naif dan masa bodoh. Menurut Mochtar Lubis, kata “Bukan saya” adalah kalimat paling populer di mulut manusia Indonesia.

Kesalahan yang dilakukan oleh atasan digeser ke bawahannya, dan terus dilakukan sampai pemegang jabatan paling bawah.

Sejumlah kasus korupsi yang terjadi di Indonesia hingga kini dilakukan tak hanya oleh pimpinan, namun juga merambah ke pekerja bawahan mereka.

Dari kasus tersebut, diduga ada sistem bagi-hasil dari keuntungan yang didapat dari aksi korupsi mereka. Salah satu kalimat familiar yang ada di tengah masyarakat perkotaan seperti Jakarta dan kota-kota besar lainnya, terutama kalangan menengah ke bawah adalah “Saya hanya melaksakan perintah dari atasan.”

Bahkan sampai ke tingkat supir bus dan angkot, yang sering membuat kemacetan karena seka ‘ngetem’ , tak mau disalahkan dan selalu berujar “Setoran belum cukup”.

Mereka memang tak mau disalahkan alias tidak mau bertanggungjawab atas apa yang jelas-jelas dilakukannya. Pernyataan-pernyataan tersebut hingga kini masih melekat pada banyak oknum pejabat, pemerintah, keamanan, supir, hingga level bawah lainnya, untuk sekedar menutupi hati nurani mereka.